Rabu, 31 Oktober 2018

Pentingnya Pendidikan Karakter Bagi Generasi Milenial

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat berdampak signifikan terhadap berbagai bidang kehidupan, tak terkecuali bidang pendidikan. Setiap komponen pendidikan tidak akan bisa lepas dari pengaruh dahsyat majunya teknologi. Tugas pendidik pada masa kini tentu akan semakin berat, terkhusus guru mata pelajaran berbasis karakter yaitu mata pelajaran Agama dan PPKn. Guru dituntut agar bisa menjadi fasilitator dan teladan bagi siswanya. Sedangkan siswa masa kini yang dikenal dengan sebutan generasi milenial sangat dekat dengan smartphone sebagai salah satu produk kemajuan teknologi. Hampir 24 jam setiap harinya kegiatan seseorang bergantung dengan yang namanya smaertphone. Siswa sangat rawan terbawa arus informasi yang tidak jelas atau hoax jika tidak mampu membedakan mana berita asli mana berita hoax. Sehingga menyebabkan meningkatnya tindak kriminal di masyarakat.
Lyons (dalam Putra, 2016) mengungkapkan ciri -- ciri dari generasi Y adalah: karakteristik masing-masing individu berbeda, tergantung dimana ia dibesarkan, strata ekonomi, dan sosial keluarganya, pola komunikasinya sangat terbuka dibanding generasi-generasi sebelumnya, pemakai media sosial yang fanatik dan kehidupannya sangat terpengaruh dengan perkembangan teknologi, lebih terbuka dengan pandangan politik dan ekonomi, sehingga mereka terlihat sangat reaktif terhadap perubahan lingkungan yang terjadi di sekelilingnya, memiliki perhatian yang lebih terhadap kekayaan. Generasi milenial cenderung berperilaku prakmatis dan instan. Karena itu, perlu disadari bahwa dalam menyikapi masalah ini perlu dilakukan langkah-langkah konkrit suoaya tujuan dari pendidikan nasional tetap konsisten dengan mengikuti era milenial ini. Generasi milenial mempunyai pola pikir yang maju dan modern. Dengan pola pikir yang maju dan modern inilah dapat membangun suatu bangsa dan dapat membuat bangsa lebih berkembang dengan kecerdasan dan pola pikir yang mereka punya. Tetapi, generasi milenial mempunyai pribadi yang sangat rapuh terhadap masalah, situasi atau kondisi yang dialaminya. 
Generasi milenial adalah generasi yang identik dengan pengguna media sosial atau bisa juga disebut netizen. Kita tahu bahwa dalam media sosial semua informasi bisa didapatkan, mulai yang positif hingga yang negatif, dari yang sangat baik hingga yang sangat berbahaya, sehingga perlu adanya pengawasan. Generasi milenial sangat butuh adanya pendidikan moral atau karakter yang diberikan di pendidikan formal maupun non formal. Seorang anak dalam mencari nilai-nilai hidup, harus mendapat bimbingan sepenuhnya dari pendidik, karena menurut ajaran islam, saat anak dilahirkan dalam keadaan lemah dan suci, alam di sekitarnyalah yang akan memberi corak warna terhadap nilai hidup atas pendidikan seorang anak, khususnya pendidikan karakter. Sehingga pendidikan karakter sangat dibutuhkan dalam membangun moral dan karakter bangsa.
Di pendidikan formal, siswa sejak SD sudah harus diberikan pemahaman dan contoh yang baik dari gurunya, khususnya Guru Agama dan Guru PPKn. Yang lebih penting sebenarnya adalah di pendidikan non formal, yaitu keluarga dan lingungan masyarakat. Keluarga sebagai pondasi akhlak dan karakter bagi anak-anak, kemudian lingkungan masyarakat sebagai laboratorium kehidupan yang sesungguhnya bagi anak tersebut. Karena faktor yang sangat berpengaruh dalam membentuk moral dan karakter seseorang adalah dari lingkungannya.
Saat ini banyak dari generasi yang menjadi korban dari "keganasan" media sosial. Smartphone sebagai pintu gerbang menuju dunia tanpa batas internet, telah disalahgunakan sebagai alat untuk melakukan tindakan-tindakan yang melanggar norma. Bagi generasi milenial, media sosial sudah seperti buku diarinya. Tiada lagi rasa malu untuk mengunggah foto-foto atau tulisan yang privasi sekalipun. Hal buruknya adalah keadaan itu akan dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Maka tak heran terjadi kasus pelecehan seksual yang bermula dari media sosial, penculikan yang berkedok hubungan asmara, hingga peredaran narkoba melalui jejaring media sosial, dan masih ada kasus-kasus yang lainnya. Tidak hanya itu, dari segi aspek sosial, pada awalnya kodrat manusia adalah sebagai makhluk sosial, namun dengan adanya teknologi saat ini, nilai-nilai budaya masyarakat sudah mulai memudar. Inilah perubahan yang terjadi dari dampak media sosial, dimana manusia berubah menjadi makhluk anti-sosial. Dilingkungan masyarakat, hampir semua kalangan sudah menggunakan yang namanya media sosial. Perkembangan teknologi media sosial ini sudah menjamur dan mengakar di kehidupan sehari-hari serta telah mengubah gaya hidup bahkan pola pikir manusia. Generasi muda bangsa yang seharusnya menjadi menjadi tokoh dibalik kemajuan bangsa justru muncul dengan perilaku kesehariannya yang mengesampingkan etika dan moral. Waktu demi waktu terus berlalu, namun dampak yang ditimbulkan arus globalisasi kian marak dalam budaya anak muda saat ini. Sebagian besar masyarakat khususnya anak muda telah terpengaruh oleh budaya baratyang dijadikan sebagai kiblat setiap perilak mereka, sehinnga hilanglah sudah identitas dan jati diri mereka sebagai Bangsa Indonesia.
Untuk meminimalisasi dan memperkecil, bahkan menghilangkan krisis multidimensional, terutama perilaku tak bermoral yang meluas di masyarakat, kita perlu menata konsep dan implementasi pendidikan nasional. Dalam menjamin pendidikan nasional yang mantap, perlu dijaga konsistensi pendidikan karakter sejak dari landasan filosofis, sistem pendidikan, sampai dengan praktik pendidikan. Tujuan pendidikan tidak hanya menjadikan insan berakal, insan kompeten dan berguna, insan well-addaptive, insan agent of change , dan insan yang bertakwa, melainkan insan yang utuh. Upaya menanamkan nilai-niali karakter pada anak di era milenial bias dilakukan dengan mengintegrasikan mata pelajaran melalui teknologi, seperti dalam pembelajaran bahasa Indonesia, anak disuruh mencari bacaan novel, cerpen, dan sastra lain yang mengandung unsur nilain-nilai moral dan kebaikan di internet. Pedidikan karakter yang diintegrasikan dalam pembelajran berbagai bidang studi dapat memberikan pengalaman yang bermakna bagi murid-murid karena mereka memahami, menginternalisasi dan mengaktualisasikannya melalui proses pembelajaran. Dengan demikian, nilai-nilai tersebut dapat terserap secara alami lewat kegiatan sehari-hari. Apabila nilai-nilai tersebut juga dikembangkan melalui kultur sekolah, maka kemungkinan besar pendidikan karakter lebih efektif diterima oleh anak.
  Pendidikan yang baik akan menghasilkan sumber daya manusia yang baik pula. Apabila sumber daya manusia telah baik, maka masa depan generasi milenial khususnya, dan negara Indonesia pada umumnya, akan cerah dan bisa bersaing dengan negara-negara maju lainnya. Sudah seharusnya kita sebagai bagian atau yang berkenaan langsung dengan generasi milenial menjaga diri dan menjaga tingkah laku di dunia maya. Mengikuti zaman dengan berkembangnya IPTEK bukan berarti juga harus melupakan etika dan moral sebagai manusia. Apalagi sudah ada Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Infromasi dan Transaksi Elektronik (ITE) sehingga segala tindakan kita di media sosial yang tidak sesuai dengan norma hukun dapat dipidanakan. Oleh karena itu, jadilah pengguna media sosial yang cerdas, beretika, dan bermoral. Pendidikan karakter bukan hanya tugas Guru Agama dan Guru PPKn disekolah, namun tanggung jawab kita bersama di keluarga dan di pergaulan masyarakat. Pentingnya pendidikan karakter saat ini untuk masa depan yang cemerlang generasi muda, bangsa, dan negara Indonesia.